Selasa, 26 Mei 2015

De Javu

De Javu
 


Bosan. Itulah yang aku rasakan saat ini. Bagaimana tidak? Ayah dan ibuku sedang pergi ke luar kota tanpa memberi tahuku. Dan aku hanya berdua saja dengan pembantuku di rumah. Apalagi aku adalah anak tunggal, jadi aku selalu merasa sepi.
Siang ini Udara begitu dingin, karena sudah satu jam hujan belum reda juga. Dan itu membuat ku ngantuk. Tapi aku tidak boleh mengantuk, karena banyak tugas yang harus aku selesaikan. Apalagi besok hari senin. Saat aku mengerjakan tugas, tiba tiba pulpen ku habis. Aku lihat di cepuk, ternyata tak ada pulpen. Yasudah aku akan ambil lagi persediaan pulpen di kamar. Aku pun berdiri, saat aku akan berjalan, aku tak sengaja menginjak serutan dan aku jatuh. Huh aku jadi malas ambil pulpennya dan males mengerjakan tugas.
Badanku merasa sangat pegal ditambah aku lapar dan haus. “ Bibiiiiiii, tolong ambilkan minum dan cemilan” ucapku dengan keras dan aku kembali mengerjakan tugas.
Aku semakin lapar dan haus. Kenapa bibi belum mengantarkan makanan juga ya? Apa dia sedang ke pasar? Tapi, rasanya gak mungkin, kalau dia ke pasar pasti akan beritahu aku. Atau dia malah memasak makanan? Huh, padahal aku minta cemilan dan minum, kenapa lama sekali. ku panggil lagi dia, tapi dia tidak menjawab. Kalau aku tidak sibuk, aku juga tidak akan menyuruhnya. Aku panggil dia sekali lagi, tapi dia tidak menjawab juga. Aku penasaran, yasudah aku pergi ke dapur.
Saat aku akan membuka pintu dapur, aku merasa ada seseorang di belakangku. Lalu aku liat ke belakangku, tapi tidak ada apa apa. Atau itu hanya perasaanku saja? Aku jadi merinding. Aku membuka pintunya dan di dapur tidak ada siapa siapa. Yasudah aku balik lagi ngerjain tugas.
Waktu aku sampe ke ruang belajar, makanan dan minuman yang aku pesan  sudah ada di sana ditambah buku buku tertata rapi. Anehnya makanan itu di tutupi tudung saji seperti di lestoran. Aku jadi bingung begini. Yasudahlah, aku makan saja dulu. Saat ku buka tudung sajinya tiba tiba badanku jadi kaku. Bagaimana tidak kaku, isi tudung saji itu adalah dua otak dengan darah diatasnya dan ada dua potong tulang rusuk, sepertinya itu adalah sumpitnya. Aku ambil gelas disisi otak itu, aku buka tutupnya. Dan ternyata itu adalah darah. Yaampun apa yang terjadi? Aku sangat takut! Lalu bibi datang dengan membawa kedua tangannya di belakang. Dan dia mengatakan “siapa selanjutnya?”, “ a..apa yang terjadi?” tanya ku dengan suara ketakutan. “oh jadi kau ingin jadi yang selanjutnya?” ucapnya dengan mengangkat tangannya yang memegang pisau yang berlumuran darah. Tiba tiba dia mendekatiku. Langsung saja aku lari ke luar, tapi pintunya di kunci. Tapi anehnya dia tidak mengejarku. Yasudah aku keluar lewat pintu dapur, saat aku membalik badan, bibi langsung menancapkan pisau ke arahku, tapi untungnya itu tidak kena. Aku langsung lari ke kamar ayah dan ibu. Aku langsung mengumpat di dalam lemari.
Huh, aku rasa aku lolos dari kejaran bibi. Aku sangat takut. Ngomong ngomong, lemarinya terasa sempit ya? Aku keluar dari lemari itu dan tiba tiba mayat ayah dan ibuku keluar dari lemari itu dengan kondisi mengenaskan. Aku bingung sekali! tiba tiba ada yang membuka pintu dan ternyata itu bibi  Bibi terus mendekat padaku. Kali ini aku tak bisa lari. Tiba tiba bibi menyodorkan pisau kearah ku. “AAAAAAAAAAAAAAAAA!”
Ini aneh, kenapa tidak terjadi apa apa? Tiba tiba aku malah terduduk di ruang belajar dengan semua buku berantakan. Huh, sepertinya aku bermimpi tadi. Yasudah, aku kembali mengerjakan tugas. Tak lama, pulpen ku tiba tiba habis. Lalu aku lihat tempat pensil, dan ternyata tak ada pulpen. Aku harus mengambil persediaan pulpen di kamar. Aku langsung berdiri. Tunggu... rasanya aku pernah mengalami ini, tapi kapan ya? Ah ya sudahlah.

The end

0 komentar: