|
Bosan. Itulah yang
aku rasakan saat ini. Bagaimana tidak? Ayah dan ibuku sedang pergi ke luar kota
tanpa memberi tahuku. Dan aku hanya berdua saja dengan pembantuku di rumah.
Apalagi aku adalah anak tunggal, jadi aku selalu merasa sepi.
Siang ini Udara
begitu dingin, karena sudah satu jam hujan belum reda juga. Dan itu membuat ku
ngantuk. Tapi aku tidak boleh mengantuk, karena banyak tugas yang harus aku
selesaikan. Apalagi besok hari senin. Saat aku mengerjakan tugas, tiba tiba pulpen
ku habis. Aku lihat di cepuk, ternyata tak ada pulpen. Yasudah aku akan ambil
lagi persediaan pulpen di kamar. Aku pun berdiri, saat aku akan berjalan, aku
tak sengaja menginjak serutan dan aku jatuh. Huh aku jadi malas ambil pulpennya
dan males mengerjakan tugas.
Badanku merasa
sangat pegal ditambah aku lapar dan haus. “ Bibiiiiiii, tolong ambilkan minum
dan cemilan” ucapku dengan keras dan aku kembali mengerjakan tugas.
Aku semakin lapar
dan haus. Kenapa bibi belum mengantarkan makanan juga ya? Apa dia sedang ke
pasar? Tapi, rasanya gak mungkin, kalau dia ke pasar pasti akan beritahu aku. Atau
dia malah memasak makanan? Huh, padahal aku minta cemilan dan minum, kenapa
lama sekali. ku panggil lagi dia, tapi dia tidak menjawab. Kalau aku tidak
sibuk, aku juga tidak akan menyuruhnya. Aku panggil dia sekali lagi, tapi dia
tidak menjawab juga. Aku penasaran, yasudah aku pergi ke dapur.
Saat aku akan
membuka pintu dapur, aku merasa ada seseorang di belakangku. Lalu aku liat ke
belakangku, tapi tidak ada apa apa. Atau itu hanya perasaanku saja? Aku jadi
merinding. Aku membuka pintunya dan di dapur tidak ada siapa siapa. Yasudah aku
balik lagi ngerjain tugas.
Waktu aku sampe ke
ruang belajar, makanan dan minuman yang aku pesan sudah ada di sana ditambah buku buku tertata
rapi. Anehnya makanan itu di tutupi tudung saji seperti di lestoran. Aku jadi
bingung begini. Yasudahlah, aku makan saja dulu. Saat ku buka tudung sajinya
tiba tiba badanku jadi kaku. Bagaimana tidak kaku, isi tudung saji itu adalah dua
otak dengan darah diatasnya dan ada dua potong tulang rusuk, sepertinya itu
adalah sumpitnya. Aku ambil gelas disisi otak itu, aku buka tutupnya. Dan
ternyata itu adalah darah. Yaampun apa yang terjadi? Aku sangat takut! Lalu
bibi datang dengan membawa kedua tangannya di belakang. Dan dia mengatakan
“siapa selanjutnya?”, “ a..apa yang terjadi?” tanya ku dengan suara ketakutan.
“oh jadi kau ingin jadi yang selanjutnya?” ucapnya dengan mengangkat tangannya
yang memegang pisau yang berlumuran darah. Tiba tiba dia mendekatiku. Langsung
saja aku lari ke luar, tapi pintunya di kunci. Tapi anehnya dia tidak
mengejarku. Yasudah aku keluar lewat pintu dapur, saat aku membalik badan, bibi
langsung menancapkan pisau ke arahku, tapi untungnya itu tidak kena. Aku langsung
lari ke kamar ayah dan ibu. Aku langsung mengumpat di dalam lemari.
Huh, aku rasa aku
lolos dari kejaran bibi. Aku sangat takut. Ngomong ngomong, lemarinya terasa
sempit ya? Aku keluar dari lemari itu dan tiba tiba mayat ayah dan ibuku keluar
dari lemari itu dengan kondisi mengenaskan. Aku bingung sekali! tiba tiba ada
yang membuka pintu dan ternyata itu bibi Bibi terus mendekat padaku. Kali ini aku tak
bisa lari. Tiba tiba bibi menyodorkan pisau kearah ku. “AAAAAAAAAAAAAAAAA!”
Ini aneh, kenapa
tidak terjadi apa apa? Tiba tiba aku malah terduduk di ruang belajar dengan
semua buku berantakan. Huh, sepertinya aku bermimpi tadi. Yasudah, aku kembali
mengerjakan tugas. Tak lama, pulpen ku tiba tiba habis. Lalu aku lihat tempat
pensil, dan ternyata tak ada pulpen. Aku harus mengambil persediaan pulpen di
kamar. Aku langsung berdiri. Tunggu... rasanya aku pernah mengalami ini, tapi
kapan ya? Ah ya sudahlah.
The end
0 komentar:
Posting Komentar