Selasa, 19 Mei 2015

DIBALIK HUJAN



DIBALIK HUJAN

Hujan pun turun membasahi tubuhku, aku bahkan tidak tahu apa yang hendak akan aku lakukan. Kini aku hanya terdiam membisu merenung dan berkaca tentang diriku memutar lamunan berulang ulang sambil melihat—lihat keadaan semua orang yang berlari kesana kemari mencari tempat perlindungan. Entah mengapa aku senang tentram dan merasa nyaman berada ditengah hujan sebagai anugerahNya, ya ini aku akui hal yang konyol.
“aaaaaa” Teriaku dengan membentangkan kedua tangan yang kini mulai membeku. Ingin rasanya aku mengeluarkan segala beban dalam benakku. Mentari mulai menghapuskan gemericik hujan yang mulai mereda. Dan siap menerangi sang dewi bumi, kicauan burung terdengar dimana-mana, bersorak sorak seakan bahagia menyambut mentari yang indah. Aku putuskan untuk secepatnya kembali kerumah. Bukan karena aku rindu akan suasana rumah, bahkan mengingat rumah saja amat sangat memuakan sangat membosankan dan sangat melelahkan. Karena hari-hariku ini selalu aku lewatkan dengan sendiri dan hanya ditemani si Mbok. Mungkin sendiri lebih baik. Tapi tak pernahkah mereka memikirkan anaknya yang haus akan kasih sayang. Mereka hanya sibuk sendiri dengan pekerjaannya.
Sesampai didepan rumah ingin rasanya diriku disambut kasih sayang kedua orangtua. Namun pupus sudah harapanku itu amat sangat mustahil. Bukan ketenangan yang aku dapatkan melainkan kegaduhan dan kekacauan. Aku tidak habis fikir apa yang membuat segerombolan polisi sedang berjaga didepan rumah dan kerumunan tetangga yang memenuhi halaman dan pagar depan rumah berteriak dengan keras seperti melihat pertunjukan panggung saja. Apa yang terjadi? Adakah kejahatan? Untaian tanya yang bergulir dalam hati dan benakku.
Akupun melangkahkan kakiku sedikit demi sedikit diantara sesaknya jalan menuju pintu rumah. Terlihat tangisan adik yang lirih, dan terdengartangisan dan jeritan suara ibu yang membuat hatiku tiba-tiba terasa terombang-ambing. Aku hampiri ayah yang tanggannya terbelenggu pertanda bahwa ayah layaknya penjahat yang biasa aku tonton ditelevisi. Tepat didepan wajahnya terlihat guratan-guratan keriput tanda lelah dan matanya yang berkaca-kaca menatap wajahku. “Ada apa Ayah? Ada apa?” Tanyaku dengan sesak didada. “Maafkan Ayah, ayah belum bisa menjadi sosok Bapak yang baik untuk Ratih.” Katanya. Air mata yang terbendung dihatiku ini kini mengalir deras membasahi pipi. Ternyata ayahku sendiri yang aku banggakan yang selalu aku rindukan kini menjadi tikus yang menggerogoti apa yang bukan ia miliki. Kepergian Ayah diiringi dengan hujan yang turun bersama air matanya yang penuh rasa berdosa.
Waktu menyempurnakan segalanya. Memburai, mengacak, juga menatanya kembali. Tidak ada yang abadi. Juga dirumah megahku itu. Dulu ada empat kepala, empat mulut, empat perut dirumah ini. Semua telah berubah semenjak Ayah meninggalkan jejak duka dan aib bagi keluarga. Dimataku Ayah tetaplah Ayah yang selalu aku banggakan, walau ia sedang meratap dosanya dibalik jeruji besi, tak terbesit sedikitpun rasa malu yang aku rasakan. Kini aku hanya bisa mengalirkan do’a-do’aku untuk  Ayah kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Waktupun bergulir cepat Aku mulai merasakan keganjalan dalam hidupku yang seperti ini berharap kebahagiaan akan dating kepadaku dan keluargaku pada saat yang aku nantikan.

0 komentar: