DIBALIK HUJAN
Hujan pun turun membasahi tubuhku, aku bahkan tidak tahu apa
yang hendak akan aku lakukan. Kini aku hanya terdiam membisu merenung dan
berkaca tentang diriku memutar lamunan berulang ulang sambil melihat—lihat
keadaan semua orang yang berlari kesana kemari mencari tempat perlindungan.
Entah mengapa aku senang tentram dan merasa nyaman berada ditengah hujan
sebagai anugerahNya, ya ini aku akui hal yang konyol.
“aaaaaa” Teriaku dengan membentangkan kedua tangan yang kini
mulai membeku. Ingin rasanya aku mengeluarkan segala beban dalam benakku.
Mentari mulai menghapuskan gemericik hujan yang mulai mereda. Dan siap
menerangi sang dewi bumi, kicauan burung terdengar dimana-mana, bersorak sorak
seakan bahagia menyambut mentari yang indah. Aku putuskan untuk secepatnya
kembali kerumah. Bukan karena aku rindu akan suasana rumah, bahkan mengingat
rumah saja amat sangat memuakan sangat membosankan dan sangat melelahkan.
Karena hari-hariku ini selalu aku lewatkan dengan sendiri dan hanya ditemani si
Mbok. Mungkin sendiri lebih baik. Tapi tak pernahkah mereka memikirkan anaknya
yang haus akan kasih sayang. Mereka hanya sibuk sendiri dengan pekerjaannya.
Sesampai didepan rumah ingin rasanya diriku disambut kasih
sayang kedua orangtua. Namun pupus sudah harapanku itu amat sangat mustahil.
Bukan ketenangan yang aku dapatkan melainkan kegaduhan dan kekacauan. Aku tidak
habis fikir apa yang membuat segerombolan polisi sedang berjaga didepan rumah
dan kerumunan tetangga yang memenuhi halaman dan pagar depan rumah berteriak
dengan keras seperti melihat pertunjukan panggung saja. Apa yang terjadi?
Adakah kejahatan? Untaian tanya yang bergulir dalam hati dan benakku.
Akupun melangkahkan kakiku sedikit demi sedikit diantara
sesaknya jalan menuju pintu rumah. Terlihat tangisan adik yang lirih, dan
terdengartangisan dan jeritan suara ibu yang membuat hatiku tiba-tiba terasa
terombang-ambing. Aku hampiri ayah yang tanggannya terbelenggu pertanda bahwa
ayah layaknya penjahat yang biasa aku tonton ditelevisi. Tepat didepan wajahnya
terlihat guratan-guratan keriput tanda lelah dan matanya yang berkaca-kaca
menatap wajahku. “Ada apa Ayah? Ada apa?” Tanyaku dengan sesak didada. “Maafkan
Ayah, ayah belum bisa menjadi sosok Bapak yang baik untuk Ratih.” Katanya. Air
mata yang terbendung dihatiku ini kini mengalir deras membasahi pipi. Ternyata
ayahku sendiri yang aku banggakan yang selalu aku rindukan kini menjadi tikus
yang menggerogoti apa yang bukan ia miliki. Kepergian Ayah diiringi dengan
hujan yang turun bersama air matanya yang penuh rasa berdosa.
Waktu menyempurnakan segalanya. Memburai, mengacak, juga
menatanya kembali. Tidak ada yang abadi. Juga dirumah megahku itu. Dulu ada
empat kepala, empat mulut, empat perut dirumah ini. Semua telah berubah
semenjak Ayah meninggalkan jejak duka dan aib bagi keluarga. Dimataku Ayah
tetaplah Ayah yang selalu aku banggakan, walau ia sedang meratap dosanya
dibalik jeruji besi, tak terbesit sedikitpun rasa malu yang aku rasakan. Kini
aku hanya bisa mengalirkan do’a-do’aku untuk
Ayah kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Waktupun bergulir cepat Aku mulai
merasakan keganjalan dalam hidupku yang seperti ini berharap kebahagiaan akan
dating kepadaku dan keluargaku pada saat yang aku nantikan.
0 komentar:
Posting Komentar